warga-buahdua-cemas-longsoran-tanah-bukit-pasir-urug-jatuh-ke-jalan

Foto untuk : warga-buahdua-cemas-longsoran-tanah-bukit-pasir-urug-jatuh-ke-jalan

TRIBUNNEWS.COM, SUMEDANG - Warga Desa Cilangkap, Sumedang, waswas melihat kondisi Pasir Urug yang tampak menjulang dari pinggir Jalan Sumedang-Conggeang-Buahdua.

Puncak bukit setinggi lebih dari 300 meter kerap longsor dan materialnya mencemaskan tak hanya warga Cilangkap, tapi juga Buahdua yang melintas jalan tersebut.

 

Material longsor berupa bebatuan kecil-kecil kerap meluncur dan sampai ke jalan raya yang berjarak 250 meter "Itu kalau hujan turun," ujar Aceng (48), warga Desa Buahdua, Rabu (19/4/2017).

Disampaikan Aceng, bebatuan yang sampai ke jalan raya kerap dibersihkan warga karena membahayakan pengguna jalan.

“Di bawah bukit itu tak ada perkampungan namun jika longsor terjadi materialnya bisa sampai ke jalan raya dan memutus lalu lintas Sumedang-Buahdua,” ia menambahkan.

Di bawah bukit itu ada objek wisata Cipanas yang kerap dikunjungi pengunjung lokal maupun dari luar Sumedang. “Warga waswas apalagi kalau hujan besar turun,” beber dia.

Warga menyebut bukit yang menjulang tinggi itu dengan Pasir Urug. Sebagiannya merupakan tanah milik dan sisanya sampai puncak lahan hutan yang dikelola Perhutani.

“Longsor sering terjadi di bukit yang kemiringannya nyaris tegak itu, makanya warga menyebut Pasir Urug atau bukit yang longsor. Saat curah hujan tinggi, longsor sering terjadi dan Perhutani memasang papan peringatan bahaya tanah longsor,” kata Yaya Kuswaya (61) warga Sekarwangi, Buahdua.

Potensi longsor memang sangat tinggi dan warga sangat cemas.

“Bukit yang menjulang itu hutannya sangat lebat dan tak ada warga yang bisa ke hutan di sana karena kondisi daerahnya curam serta masih banyak hewan liar,” ia menambahkan.

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang / Jasa
Kabupaten Sumedang
LPSE Kabupaten Sumedang
LPSE Jawa Barat